Dalam beberapa hari terakhir, Sumatera diguncang bencana hidrometeorologi. Banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem yang menelan korban serta merusak ribuan kehidupan di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Di tengah duka itu, publik menunggu suara empati dari Pemerintah Kabupaten Kampar, sebuah ucapan belasungkawa, doa, atau setidaknya tanda kehadiran moral bagi saudara-saudara yang tertimpa musibah.
Namun yang muncul justru keheningan, diam yang terlalu panjang. Diam yang terasa mencolok, tanpa simpati, tanpa empati dan kepedulian.
Kekosongan sikap inilah yang membuat jargon “Kampar di Hati” terdengar hambar, seperti slogan yang kehilangan makna, lebih dekat ke “Kampar Sampai Hati” ketimbang Kampar yang berhati. Padahal, diam di saat bencana bukan hanya kehilangan momentum empati, sekaligus juga kehilangan legitimasi moral.
Sebuah pemerintah daerah tidak dinilai dari seberapa indah visi misinya ditulis, tetapi dari seberapa cepat ia berdiri ketika orang lain jatuh. Dalam konteks ini, Kampar tidak sedang diminta menggelar karpet merah atau membuat seremoni besar. Yang diminta hanya suara, sebuah kalimat sederhana yang menunjukkan bahwa Kampar peduli.
Ketika kabupaten lain menunjukkan solidaritas, Kampar justru terlihat jauh. Dan yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada himbauan jelas terkait potensi dampak cuaca ekstrem yang juga dapat memengaruhi Kampar sendiri. Ketika risiko meningkat, publik membutuhkan arahan, bukan keheningan birokratis.
Hari ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi Pemerintah Kabupaten Kampar, tetapi rasa percaya masyarakat. Bagi masyarakat, kehadiran pemerintah bukan dilihat pada hari-hari peresmian, tetapi di hari-hari krisis. Kesigapan bukan hanya soal logistik, tetapi dimulai dari empati, kata-kata yang menenangkan, dan kepemimpinan yang tidak membiarkan masyarakat berjalan sendiri dalam ketidakpastian.
“Kampar di Hati” seharusnya menjadi kompas moral bahwa Kampar dekat kepada rakyat, dekat kepada duka sesama, dan tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaannya. Jika tidak dijaga, slogan itu akan berubah menjadi ironi, sebuah kabupaten yang mengaku menaruh semuanya di hati, tetapi justru terlihat tak punya hati.
Masih ada waktu untuk memperbaiki. Yang dibutuhkan hanya keberanian sederhana, mengucapkan kepedulian, menyampaikan himbauan, dan menunjukkan bahwa Kampar tidak sedang tidur ketika Sumatera menangis.
Penulis: Rahmat Yani, Aktivis Kampar yang bermastautin di Pulau Birandang
Editor : Herdi Pasai
Berita Terkait
Berita Terbaru
Kemenag Kampar Perkuat K-OMICE, Dorong Kompetensi Guru dan Standarisasi Pembelajaran
- Kampar
- 23 April 2026 15:41 WIB
Di Balik Capaian Pajak 2025, DPRD Kampar Temukan Potensi PAD Belum Tergarap
- Kampar
- 23 April 2026 15:31 WIB
Bapenda Kampar Catat Peningkatan Penerimaan Pajak Daerah 2025
- Kampar
- 22 April 2026 19:09 WIB
Dikukuhkan Langsung Ketua MPC, Irwanto Siap Besarkan Pemuda Pancasila Rambah Hilir
- Rohul
- 22 April 2026 18:55 WIB
Kakan Kemenag Kampar Tekankan Integritas dan Keadilan Soal
- Kampar
- 22 April 2026 16:15 WIB
Diduga Pohan Cs Mengancam dan Menakuti Anak di Bawah Umur, Dengan Cara Adu Domba, Fitnah Melayu
- Inhu
- 22 April 2026 15:28 WIB
Pemkab Siak dan Utusan Presiden Luruskan Informasi Dokter Spesialis, Pelayanan Harus Tetap Berjalan
- Siak
- 22 April 2026 10:50 WIB
BNI dan HPPI Inhil: Menjahit Napas Baru untuk Lapak-Lapak yang Tak Pernah Tidur
- Inhil
- 21 April 2026 13:46 WIB
DPRD Kampar Tuntaskan Pembahasan LKPj 2025, Beri Rekomendasi Strategis untuk Perbaikan Kinerja
- Kampar
- 21 April 2026 06:09 WIB
Waspada! Modus Baru Penipuan Haji Gunakan Link WhatsApp
- Kampar
- 20 April 2026 20:13 WIB
DPRD Kampar Soroti Nasib 68 Guru Bantu, Honor Belum Dibayar 4 Bulan
- Kampar
- 20 April 2026 20:08 WIB
