Polsek Keritang Kawal Ketahanan Pangan Dari Akar Rumput, Bukan Sekadar Wacana
KERITANG - Di Dusun Sukatani KM 08 Desa Petalongan, Kecamatan Keritang, pagi tidak dimulai dengan sirine dan raungan knalpot dinas. Ia dimulai dengan langkah pelan seorang Bhabinkamtibmas yang menyusuri pematang sawah, menyapa petani satu per satu, dan duduk di atas galengan untuk mendengar keluh kesah mereka tentang musim tanam yang tidak pernah pasti.
Polsek Keritang memilih cara yang sederhana namun berat: turun langsung ke lapangan. Melalui Bhabinkamtibmas Desa Petalongan, mereka bertindak sebagai motor penggerak dan pengawas ketahanan pangan di tingkat desa. Bukan dari balik meja, tapi dari lumpur sawah yang lengket di sepatu dan keringat yang menetes di kening petani.
Di sinilah letak bedanya. Bhabinkamtibmas tidak datang membawa perintah, tapi membawa telinga. Ia mendengar cerita tentang benih yang terlambat datang, pupuk yang harganya naik, air irigasi yang mulai surut, dan kekhawatiran akan gagal panen. Obrolan itu mungkin terdengar kecil, tapi bagi petani, itu adalah hidup dan mati keluarga mereka.
“Kita tidak bisa bicara swasembada pangan kalau petani merasa ditinggal sendiri,” kata seorang personel Polsek Keritang di sela kunjungan, Minggu (17/5/2026). Bagi mereka, menjaga perut bangsa dimulai dari menjaga semangat orang-orang yang mau mengotori tangan di tanah. Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk memastikan tidak ada petani yang berjuang sendirian.
Di Desa Petalongan, setiap jengkal sawah adalah cerita perjuangan. Ada bapak tua yang sejak subuh sudah berada di ladang, ada ibu yang membawa bekal nasi bungkus untuk suaminya, ada anak muda yang mulai ragu apakah bertani masih layak dilanjutkan. Di situlah Bhabinkamtibmas berdiri, menjadi jembatan antara harapan petani dan perhatian negara.
Ketahanan pangan nasional tidak dibangun dari seminar di hotel berbintang. Ia dibangun dari desa-desa seperti Sukatani, dari kerja keras orang-orang yang mau bertahan dengan cangkul dan pacul meski hasil panen kadang tidak sepadan dengan keringat. Jika negara ingin berdaulat pangan, maka ia harus hadir di titik paling akar rumput.
Bagi Polsek Keritang, tugas ini adalah bagian dari pengabdian yang lebih luas. Keamanan tidak hanya soal patroli malam dan penindakan kejahatan. Keamanan juga berarti memastikan perut rakyat kenyang, memastikan anak-anak di desa tidak tidur dengan perut kosong karena harga beras di pasar terlalu tinggi.
Gotong royong yang terjadi di Sukatani adalah potret kecil Indonesia yang masih bisa diselamatkan. Ketika aparat dan petani berdiri berdampingan, ketika polisi mau berlumpur bersama warga, maka kepercayaan itu tumbuh kembali. Dan dari kepercayaan itulah, semangat swasembada pangan bisa dihidupkan kembali.
Di ujung hari, Bhabinkamtibmas pamit pulang dengan sepatu penuh lumpur, tapi membawa keyakinan bahwa kehadirannya berarti. Di KM 08 Sukatani, setiap biji padi yang ditanam bukan hanya untuk perut keluarga petani, tapi juga untuk janji besar bangsa ini: Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan tidak bergantung pada orang lain untuk makan.
Di sawah Petalongan, nasionalisme tidak diteriakkan. Ia ditanam, dirawat, dan dijaga bersama. Dan selama Polri mau berjalan bersama petani, selama itu pula harapan untuk Indonesia yang berdaulat pangan tetap hidup. Aditiya
Editor : Nurdin Tambunan
Berita Terkait
Berita Terbaru
Wakil Ketua DPRD Pelalawan Tengku Azwardi ST Salurkan Bantuan Kursi Sekolah untuk SD Di Kecamatan Teluk Meranti
- Pelalawan
- 24 Oktober 2026 22:23 WIB
Gamaroni Jadi Pahlawan, PSPS Pekanbaru Tekuk Persikad Depok
- Olahraga
- 24 Oktober 2026 20:35 WIB
Veda Ega Pratama dari Q1 ke Pole Position
- Olahraga
- 24 Oktober 2026 14:26 WIB
Tuduhan Jual Pertalite ke Pengecer Viral, Ujang Minta Pengunggah Facebook Klarifikasi
- Bengkalis
- 24 Oktober 2026 09:11 WIB
Polres Kepulauan Meranti Sasar Komunitas Becak dalam Program Jumat Berkah
- Kepulauan Meranti
- 23 Oktober 2026 20:20 WIB
Mario Suryo Aji Tembus Q2, Jadi Harapan Indonesia di Phillip Island
- Olahraga
- 23 Oktober 2026 17:05 WIB
Alvaro Carpe Tercepat di Phillip Island, Veda Ega Pratama Terlempar ke Posisi ke-16
- Olahraga
- 23 Oktober 2026 17:02 WIB
Polda Kepri Gandeng Buruh dan Pengusaha, Perkuat Sinergi Jaga Iklim Investasi di Batam
- Batam
- 22 Oktober 2026 19:26 WIB
Pimpin Upacara Hari Santri 2026, Bupati Karimun Ajak Santri Kuatkan Negeri Menuju Indonesia Emas
- Karimun
- 22 Oktober 2026 18:55 WIB
Gasing Lestarikan Tradisi Melayu, Bunguran Timur Juara Lomba Antar Kecamatan HUT ke-27 Natuna
- Natuna
- 22 Oktober 2026 17:48 WIB
JMSI Kampar Kunjungi BPTU Padang Mengatas, Intip Peluang Pengembangan Peternakan
- Nasional
- 22 Oktober 2026 15:05 WIB
Hakim PTUN Tolak Rekonvensi dari Kuasa Hukum ITEBA, Imanuel Dermawan Purba
- Batam
- 22 Oktober 2026 00:05 WIB
Pemprov Riau Sesuaikan Skema Sharing Iuran JKN
- Riau
- 21 Oktober 2026 20:19 WIB
Satu Rumah Milik Warga Teluk Belitung Terbakar Hangus, Kerugian Ditaksirkan Rp100 Juta
- Kepulauan Meranti
- 21 Oktober 2026 20:02 WIB
Jalani Prosesi Adat, Pelantikan Pengurus LAK Kampar Diundur hingga 8 November 2026
- Kampar
- 21 Oktober 2026 15:46 WIB
SF Hariyanto Jadi Gubernur Pertama di Indonesia Raih Gelar ASEAN Engineer
- Riau
- 20 Oktober 2026 22:00 WIB

